Label

Tampilkan postingan dengan label ndlemingan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ndlemingan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 April 2014

sebatas isyarat--rectoverso. @Dee

"Aku mulai berkisah,
tentang
satu sahabatku yang lahir di
negeri orang lalu menjalani
kehidupan keluarga imigran
yang sederhana. Setiap kali
ibunya hendak menghidangkan
daging ayam sebagai lauk,
ibunya pergi ke pasar untuk
membeli bagian punggungnya
saja. Hanya itu yang mampu
ibunya beli. Sahabatku pun
beranjak besar tanpa tahu
bahwa ayam memiliki bagian
lain selain punggung. Ia tidak
tahu ada paha, dada, atau
sayap. Punggung menjadi satu-
satunya definisi yang ia punya
tentang ayam.

Aku sampai di bagian
bahwa
aku telah jatuh cinta. Namun
orang itu hanya mampu
kugapai sebatas punggungnya
saja. Seseorang yang cuma
sanggup kuhayati
bayangannya dan tak akan
kumiliki keutuhannya.
Seseorang yang hadir
sekelebat bagai bintang jatuh
yang lenyap keluar dari bingkai
mata sebelum tangan ini
sanggup mengejar. Seseorang
yang hanya bisa kukirimi
isyarat sehalus udara, langit,
awan, atau hujan. Seseorang
yang selamanya harus
dibiarkan berupa sebentuk
punggung karena kalau sampai
ia berbalik niscaya hatiku
hangus oleh cinta dan siksa.

…Sahabat aku itu
adalah
orang yang berbahagia. Ia
menikmati punggung ayam
tanpa tahu ada bagian lain. Ia
hanya mengetahui apa yang ia
sanggup miliki. Aku adalah
orang yang paling bersedih,
karena aku mengetahui apa
yang tidak sanggup aku
miliki”.

Kamis, 27 Maret 2014

pernahkah aku tidak memaafkanmu ?


oleh : mejenis panggar besi


kau tahu kau menyakitiku. Aku sadar aku mengecewakanmu. Melalui huruf-huruf ini aku ingin bercerita dan bertanya. Tentang aku yang telah lupa kepada luka, kepada rasa sakit yang demikian nyelekit. Aku memaafkanmu, sepenuhnya. Pernahkah aku tidak memaafkanmu ? 
Seperti hari-hariku kini yang terus menerus menimbunku dalam gundukan rindu dan rasa ingin bertemu. Tapi perpisahan ini adalah akhir yang sempurna, juga perih dan duka yang mengikuti sesudahnya. Aku tahu, aku tak hanya ingin bertemu denganmu, tapi diri ini ingin kembali menjalani hari bersamamu. Maka, aku mencegah diriku menemuimu. Sekuat-kuatnya, sebisa-bisanya, seracun-racunnya. Pernahkah aku tidak memaafkanmu ? Pernahkah aku tidak menerimamu ? 
Lalu malam-malam tak henti menganiaya diriku, bukan dengan gelapnya, bukan dengan dinginnya. Tapi melalui detiknya yang seolah enggan berpindah. Aku berani bersumpah, bahwa malam mengulur dirinya lebih lama dibanding ketika aku melaluinya dalam ketiakmu. pernahkah aku tidak memaafkanmu ? 
Itu karena rasa sayang ini demikian mencintaimu. Hingga dia tetap menyediakan penerimaan-demi penerimaan, atas apa-apa yang sebenarnya membuatnya terluka. Lalu kau merubah dirimu menjadi piring pecah. Tapi pernahkah aku tidak memaafkanmu ? 
Bahkan dadaku tetap menerima ke-piring pecahan-mu dengan mengenakan senyum. Senyum yang tak lelah mengemis, supaya ke-piring pecahan-mu tetap sudi singgah dalam dadaku. Hingga pada akhirnya, aku menyerah. Digilas pasrah demi pasrah. Aku memilih menjauh. Aku memilih jarak, menunggumu kembali sambil membetulkan isi dadaku yang kadung berserak. Disinilah aku, tak henti bertanya, pernahkah aku tidak memaafkanmu ? 
Pertanyaan keseribu sekian yang tak henti aku rapalkan untuk sekian rasa manis yang gagal aku reguk. Untuk sekian warna-warna yang gagal aku susun ulang menjadi pelangi, tempat kita ingin berpulang setelah lelah berpetualang. Setelah kita merasa cukup mengumpulkan kenangan.

Sabtu, 22 Maret 2014

bersama hujan

aku ingin menjadi seorang yang romantis, hari ini saja, karenamu.
Sebagai seorang yang romantis, aku ingin membuat diriku percaya bahwa hujanlah yang mengirimmu padaku.

Kau datang setelah hujan menggedor-gedor atap rumahku.
Yang tentu saja tidak aku bukakan, karena hujan menggedor atap, bukan pintu.

Jika percaya bahwa hujan yang mengirimmu padaku adalah gila dan terlalu memaksa, maka aku akan menurunkan standar keromantisanku dengan begini : mungkin benar, bukan hujan yang mengirimmu padaku. Tapi yang jelas, hujanlah yang menahanku untuk kemudian akhirnya kita bertemu.

Tak jauh berbeda bukan ? Ini semua tentang hujan.
Tentang dirimu.
Tentang kedatanganmu, seusai hujan menggedor-gedor atap rumahku.
 Namun tak aku bukakan, karena hujan menggedor atap, bukan pintu.