Label

Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 April 2014

Semoga cinta selalu ada, dalam hati kita



peta di telapak kakiku, adakah ia menuntunku padamu ?
Kau yang hingar, kau yang bugar.
Kau yang gagap di depanku, kau yang membuang mata di hadapanku.

Tak henti kompas pada jemariku ini menelusuri pipimu, mencoba menemukan arahnya sendiri.
Menggali dan mengira, mana kutub mana khatulistiwa.
Karena aku tahu--atau mungkin sebenarnya kau juga tahu--pada pipi kananmulah semua ini bermuara.
Pada pipi kananmulah aku titipkan salam terakhir kita.

Maka, terberkatilah pipi hangatmu itu Ta.
Kehangatan, tempat aku menitipkan sebuah ciuman perpisahan.
Meski aku tak pernah benar-benar tahu, apa beda pertemuan dan perpisahan.
Sejahteralah kau selalu Ta, percayalah, aku tetap menyayangimu melalui do'a.

Semoga cinta selalu ada, dalam hati kita. Ta.

kosong lima kosong lima



Kosong lima kosong lima pagi pecah di dadaku.
Aku membelah diriku berkali-kali, tapi tetap tak kutemukan diriku.
Dimana ?
Dimana ?
Aku membelah bagian belakang tubuhku, tapi yang ku temukan hanyalah dirimu sedang berganti baju. Sesudah mandi.
Celana dalam biru tuamu memelukku, hangat.
Aku menutup bagian belakang diriku dengan menjerit.
Lirih.
Menahan tikaman tikaman perih.
Dimana diriku ?

Kosong lima sepuluh. Lima menit berlalu.
Aku memilih terjaga, tapi tetap tak dapat ku temukan diriku.
Mataku adalah matamu, bibirku adalah bibirmu.
Pipi, hidung, dahi, bahkan alis ini bukan diriku lagi.
Aku ketakutan, aku kedinginan.
Aku ingin berlindung pada hangat ketiakmu, pada bulu-bulu halus yang tumbuh disana, juga aroma kesegaran yang berdiam pada tiap lipatannya.
Dimana diriku ?
Aku masih belum menemukannya.

Aku menggenangi ketiakmu, yang bahkan genangan itu bukanlah lagi genanganku.
Kembalikan diriku Ta, kembalikan yang telah kau curi dariku.
Kembalikanlah, yang tanpanya, aku bukanlah diriku.
Aku berhak hidup Ta, tanpamu

Sabtu, 22 Maret 2014

genangan

oleh : majenis panggar besi

aku selalu melihat hujan pada dirinya. 
Pria ini, menurutku adalah hujan itu sendiri. 
Ketika senyumnya terjatuh di hadapanku, maka seketika hujan yang tak jelas juntrungannya ini berhamburan menuju dadaku. 
Tanpa ampun. 
Hancurlah dadaku beserta isinya. 
Maka dengan tertatih, aku punguti puing-puing dadaku yang berserakan. 
Hati-hati, merangkainya kembali seperti bentuk semula. 

Ketika merengutnya menerpaku, hujan itu kembali menyerbu dadaku. 
Dan selalu tanpa ampun. 
Ketika aku mendengar suaranya, hujan itu seketika menyerbuku. 
Hujan. 
Hujan. 

Pagi ini aku mengenakan pakaian hitam, supaya ketika pria-ku muncul, dan aku tak mampu menguasai diri, aku bisa bersembunyi pada warna gelapnya. 
aku datang belakangan rupanya, ketika aku sampai, pria-ku sudah sibuk dengan pekerjaannya. 
Dia bergerak kesana kemari, omong sana sini. 
Dan tanpa kusadari, hujan telah membanjiri tubuhku. 
Berderai-derai, hingga ketika aku telah kembali kepada diriku, aku hanya tinggal berupa genangan saja.

lalu aku jadi bingung sendiri. 
Siapa di antara kami yang berasal dari hujan. 
Sementara aku telah sadar pada satu hal, mengenai hujan ini. 
 Hujan yang jujur ini adalah perwujudan luka, betapa senyumanmu, merengutmu, kegagapanmu ketika emosi melanda, suaramu, langkah kakimu, cahaya matamu, betapa semua itu tak akan pernah menjadi milikku. 
Tak akan pernah. 

Pria hujanku, engkau hanyalah semisal dermaga, tempat aku melempar sauh dan singgah sementara. 
Akan datang hari, ketika aku harus mengangkat jangkar, dan membenahi isi dada yang sempat engkau belukarkan. 
Pria hujanku, engkau adalah atap, tempat aku sejenak singgah dan meratap. 
Tempat aku berteduh dari malam untuk menjemput subuh. 
Dan ketika tiba fajar, aku harus sudah siap mengembangkan layar.

Kapan sih kamu berhenti jadi perahu ?


oleh : majenis panggar besi


aku berjalan menujumu, tapi tak ketemu. Aku pulang dan kulihat kau telah menggenangi lantai kamar. Bahagia mataku, bergembira pendengaranku. Tapi tidak hati dan lautan di dada dan kepalaku. Kepalaku semakin laut saja. 

Matahari semakin tinggi, menguapkanmu. Aduh, Shine Shine. Kapan sih kamu berhenti jadi perahu ? Aku lelah menjadi laut melulu, tempatmu berlayar, membuang sauh, dan bersandar.

Siang. Dadaku berdering menerima panggilanmu. 
Kau dimana, kataku. 
Aku tersangkut di pagar, katamu. 
Ah, dari sanalah semua bermula Shine. Pagar itulah yang melahirkanmu. 
Pagar sialan, aku juga tersangkut dan tak bisa melepaskan diri. Padahal niatku adalah membebaskanmu. Tapi belakangan aku jadi curiga dengan diriku sendiri, jangan-jangan aku sengaja membuat diriku tersangkut. Supaya bisa bersamamu.

Sore. Angin menderu-deru. Kita berkibar dihembus-tiupkan angin. Aku meniupmu dengan nafasku. Kau tetap menggenang. Bergelung dalam cangkir, berharap dapat kureguk tanpa di angin-anginkan (1). Aku menarik nafas, lalu sadar bahwa udara ini telah penuh oleh dirimu juga, yang tengah mengepul dari genangan dalam cangkir. Aku menahan nafas. Selamanya. Tidak, maksudku selama-lamanya. Bukan bukan, yang sebenarnya ingin aku katakan adalah selama-lama-lamanya. Semampunya.

Bila kelak malam bertanya tentang hari ini, akan aku jawab, aku telah melawan.Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya (2). Meski tentu saja aku menikmatinya. 
Munafik.  
Hey, siapa sih yang tidak munafik di dunia ini ?

#ndlemingan.
1. Guri Ridola
2. Pramoedya Ananta Toer