Sabtu, 22 Maret 2014

genangan

oleh : majenis panggar besi

aku selalu melihat hujan pada dirinya. 
Pria ini, menurutku adalah hujan itu sendiri. 
Ketika senyumnya terjatuh di hadapanku, maka seketika hujan yang tak jelas juntrungannya ini berhamburan menuju dadaku. 
Tanpa ampun. 
Hancurlah dadaku beserta isinya. 
Maka dengan tertatih, aku punguti puing-puing dadaku yang berserakan. 
Hati-hati, merangkainya kembali seperti bentuk semula. 

Ketika merengutnya menerpaku, hujan itu kembali menyerbu dadaku. 
Dan selalu tanpa ampun. 
Ketika aku mendengar suaranya, hujan itu seketika menyerbuku. 
Hujan. 
Hujan. 

Pagi ini aku mengenakan pakaian hitam, supaya ketika pria-ku muncul, dan aku tak mampu menguasai diri, aku bisa bersembunyi pada warna gelapnya. 
aku datang belakangan rupanya, ketika aku sampai, pria-ku sudah sibuk dengan pekerjaannya. 
Dia bergerak kesana kemari, omong sana sini. 
Dan tanpa kusadari, hujan telah membanjiri tubuhku. 
Berderai-derai, hingga ketika aku telah kembali kepada diriku, aku hanya tinggal berupa genangan saja.

lalu aku jadi bingung sendiri. 
Siapa di antara kami yang berasal dari hujan. 
Sementara aku telah sadar pada satu hal, mengenai hujan ini. 
 Hujan yang jujur ini adalah perwujudan luka, betapa senyumanmu, merengutmu, kegagapanmu ketika emosi melanda, suaramu, langkah kakimu, cahaya matamu, betapa semua itu tak akan pernah menjadi milikku. 
Tak akan pernah. 

Pria hujanku, engkau hanyalah semisal dermaga, tempat aku melempar sauh dan singgah sementara. 
Akan datang hari, ketika aku harus mengangkat jangkar, dan membenahi isi dada yang sempat engkau belukarkan. 
Pria hujanku, engkau adalah atap, tempat aku sejenak singgah dan meratap. 
Tempat aku berteduh dari malam untuk menjemput subuh. 
Dan ketika tiba fajar, aku harus sudah siap mengembangkan layar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar